Selasa, 16 Juni 2015

Ajaran Budha Tentang Bhavana


Bhavana berarti pengembangan, yaitu pengembangan batin dalam melaksanakan pembersihannya. Istilah lain yang arti dan pemakaiannya hampir sama dengan bhavana adalah samadhi. Samadhi berarti pemusatan pikiran pada suatu objek 
Meditasi akan menghasilkan ketenangan pikiran dan kesadaran yang lebih baik, sehingga bisa mengalami waktu yang sedang berlangsung. Meditasi adalah wahana dalam pembelajaran untuk mencapai kejernihan sehingga realitas yang sebenarnya dapat di tangkap
1.     Bhavana dapat di bagi menjadi 3 macam
.
Metta bhavana
Metta Bhavana (skrt. Maître) adalah keinginan akan kesejahteraan semua makhluk tanpa terkecuali. Metta bias di sebut juga cinta kasih jasmaniyah.
Praktek meditasi metta adalah dasar untuk melanjutkan kelatihan meditasi vipassana, bila suatu saat hal itu diperlukan. Jadi metta bhavana dalam agama budha itu adalah meditasi cinta kasih, yang dimana cinta kasih ini untuk merenungkan segala objek yang dipikirkan dalam bayangannya dan bertujuan untuk mencapai kepuasaan pada iniduvidu yang melakukan meditasi tersebut
2.     Samatha Bhavana
Samatha bhavana merupakan pemusatan batin atau penyatuan pemusatan batin. Meditasi atau bhavana ini di muali dengan pemusatan batin
Dalam Samatha Bhavana ada 40 macam obyek meditasi. Keempat puluh macam obyek meditasi itu adalah :
Sepuluh kasina (sepuluh wujud benda), yaitu :
Pathavi kasina = wujud tanah
Apo kasina = wujud air
Teja kasina = wujud api
Vayo kasina = wujud udara atau angin
Nila kasina = wujud warna biru
Pita kasina = wujud warna kuning
Lohita kasina = wujud warna merah
Odata kasina = wujud warna putih
Aloka kasina = wujud cahaya
Akasa kasina = wujud ruangan terbatas                                          
Sepuluh anussati (sepuluh macam perenungan), yaitu :
Buddhanussati = perenungan terhadap Buddha
Dhammanussati = perenungan terhadap Dhamma
Sanghanussati = perenungan terhadap Sangha
Silanussati = perenungan terhadap sila
Caganussati = perenungan terhadap kebajikan
Devatanussati = perenungan terhadap makhluk-makhluk agung atau para dewa
Marananussati = perenungan terhadap kematian
Kayagatasati = perenungan terhadap badan jasmani
Anapanasati = perenungan terhadap pernapasan
Upasamanussati = perenungan terhadap Nibbana atau Nirwana
Dalam Dhammanussati, direnungkan enam sifat Dhamma. Keenam sifat Dhamma itu adalah telah sempurna dibabarkan, nyata di dalam kehidupan, tak lapuk oleh waktu, mengundang untuk dibuktikan, menuntun ke dalam batin, dapat diselami oleh para bijaksana dalam batin masing-masing.
         
Dalam Sanghanussati, direnungkan sembilan sifat Ariya-Sangha. Kesembilan sifat Ariya-Sangha itu adalah telah bertindak dengan baik, telah bertindak lurus, telah bertindak benar, telah bertindak patut, patut menerima persembahan, patut menerima tempat bernaung, patut menerima bingkisan, patut menerima penghormatan, lapangan untuk menanam jasa yang tiada taranya di alam semesta.
Dalam silanussati, direnungkan sila yang telah dilaksanakan, yang tidak patah, yang tidak ternoda, yang dipuji oleh para bijaksana, dan menuju pemusatan pikiran.
Dalam caganussati, direnungkan kebajikan berdana yang telah dilaksanakan, yang menyebabkan musnahnya kekikiran.
         
Dalam devatanussati, direnungkan makhluk-makhluk agung atau para dewa yang berbahagia, yang sedang menikmati hasil dari perbuatan baik yang telah dilakukannya.
         
Dalam marananussati, orang harus merenungkan bahwa pada suatu hari, kematian akan datang menyongsongku dan makhluk lainnya; bahwa badan ini harus dibagi-bagikan olehku kepada ulat-ulat, kutu, belatung, dan binatang lainnya yang hidup dengan ini; bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan, di mana, dan melalui apa orang akan meninggal, serta keadaan yang bagaimana menungguku setelah kematian.
Dalam kayagatasati, orang merenungkan 32 bagian anggota tubuh, dari telapak kaki ke atas dan dari puncak kepala ke bawah, yang diselubungi kulit dan penuh kekotoran; bahwa di dalam badan ini terdapat rambut kepala, bulu badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum, ginjal, jantung, hati, selaput dada, limpa, paru-paru, usus, saluran usus, perut, kotoran, empedu, lendir, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak kulit, ludah, ingus, cairan sendi, air kencing, dan otak.
         
Dalam anapanasati, orang merenungkan keluar masuknya napas. Dengan sadar ia menarik napas, dengan sadar ia mengeluarkan napas.
3.     Vippasana bhavana
Istilah vippasana (vi-passana) berasal dari asal katanya dilihat dengan cara istimewa dan kata passair Vippasana brarti meliaht dari segi yang lebih jauh, bukan melihat ke permukaan ataupun bersifat sepintas lalu lalu melihatnya dengan prespektif yang sebenarnya. Dalam istilah dari ketiga sifat khas dari semua gejala kehidupan yaitu: annica, dukha dan anatta

Ajaran Hindu tentang Panca Yadnya

Pendahuluan
Sebelum memasuki inti dari makalah ini, kami ingin mereview kembali sejarah singkat peradaban Kerajaan-kerajaan yang pernah berjaya di Nusantara yang sekarang disebut Indonesia.
Sejarah menyatakan, bahwa pada jaman dahulu kala di wilayah Nusantara Indonesia telah berdiri Kerajaan-Kerajaan Besar seperti salah satu di antaranya adalah Kerajaan Majapahit yaitu sebuah Kerajaan penganut Agama Hindu yang merupakan Kerajaan terbesar yang bisa menyatukan seluruh wilayahnya sampai ke Madagaskar.
Pada jaman itu sudah ada hubungan dengan Negara luar negeri terutama dengan negeri campa yang saat ini Negara cina
Kerjaan ini bertempat di jawa timur, yang pada jaman keemasannya dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Hayam Wuruk dengan patihnya bernama Gajah Mada. Mungkin legenda yang satu ini tidak asing lagi bagi kita, karena dari dulu sampai sekarang kisah Gajah Mada masih terus ramai dibicarakan.
Pada jaman itu pula perkembangan budaya yang berlandaskan Agama Hindu sangat pesat termasuk di daerah Bali dan perkembangan terakhir menunjukkan bahwa para arya dari kerajaan majapahit sebagian besar hijrah ke daerah Bali dan di daerah ini para Arya-Arya tersebut lebih menetapkan ajaran-ajaran agama hindu sampai sekarang.
Masyarakat Hindu di Bali dalam kehidupan sehari-harinya selalu berpedoman pada ajaran Agama Hindu warisan para lelulur Hindu di Bali terutama dalam pelaksanaan upacara ritual dalam Falsafah Tri Hita Karana.
Yadnya adalah sering diartikan sebagai “kurban/kurban suci yang dilaksanakan dengan tulus ikhlas dalam ajaran Agama Hindu. Kata ini berasal dari Bahasa Sanskerta: yakni (yajña) yang merupakan akar kata dari “Yaj”, yang berarti memuja, mempersembahkan atau korban suci.
Sementara yang dimaksud dengan Panca-Yadnya adalah : Panca artinya lima dan Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus, ikhlas, kehadapan Tuhan. Kesimpulannya adalah lima dasar sesembahan yang sacral dilandasi rasa ikhlas, tulus, pada Hyang Widi yang dalam istilah Bali umumnya masyarakat Hindu menyebutkan Ida Sanghyang Widi Wasa/Sanghyang Widi Wase. [1][2]
Selain itu, di dalam Panca Yadnya terdapat lima pelaksaan bagian yaitu :
a. Dewa Yadnya
b. Bhuta Yadnya
c. Manusia Yadnya
d. Pitara Yadnya
e. Rsi Yadnya
Dari kelima bagian tersebut memliki peran penting dari tiap-tiap unsur, dan tujuan dari panca yadnya Bila direnungkan tujuan diadakannya sebuah Yadnya yaitu untuk membalas Yadnya yang dahulu dilakukan oleh Ida Sang Hyang Widhi ketika menciptakan alam semesta beserta isinya. Dalam konsep Agama Hindu adalah mewujudkan keseimbangan. Dengan terwujudnya keseimbangan berarti terwujud pula keharmonisan hidup yang didambakan oleh setiap orang di dunia ini, jadi yadnya itu bertujuan untuk melangsungkan kehidupan yang berkesinambungan yaitu melalui beberapa cara sebagai berikut:
·                    Membayar Rna (hutang) untuk mencapai kesempurnaan hidup.
·                    Melebur dosa untuk mencapai kebebasan yang sempurna.
Macam Macam pelaksanaan upacara Yadnya :
a.                   Upacara Dewa Yadnya
Dewa asal kata dalam bahasa Sanskirt “Div” yang artinya sinar suci, jadi pengertian dewa adalah sinar suci yang merupakan manifestasi dari tuhan yang di anut oleh umat hindu bila di bali menyebutnya Ida Sanghyang Widi Wasa. Yadnya sendiri artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Dari tujuan upaca dewa Yadnya untuk pemujaan serta persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan tuhan dan sinar-sinar sucinya yang disebut dewa-dewi.
Karena adanya pemujaan terhadap dewa-dewi atau para dewa beliau dianggap sebagai yang mempengaruhi dan mengatur kehidupan semua didunia ini. [3][4]
Salah satu dari Upacara Dewa Yadnya seperti Upacara Hari Raya Saraswati yaitu upacara suci yang dilaksanakan oleh umat Hindu untuk memperingati turunnya Ilmu Pengetahuan yang dilaksanakan setiap 210 hari yaitu pada hari Sabtu, yang dalam kalender Bali disebut Saniscara Umanis uku Watugunung, pemujaan ditujukan kehadapan Tuhan sebagai sumber Ilmu Pengetahuan dan dipersonifikasikan sebagai Wanita Cantik bertangan empat memegang wina (sejenis alat musik), genitri (semacam tasbih), pustaka lontar bertuliskan sastra ilmu pengetahuan di dalam kotak kecil, serta bunga teratai yang melambangkan kesucian.
b.                  Upacara Bhuta Yadnya
Bhuta artinya unsur-unsur alam sedangkan Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Kata “Bhuta” sering dirangkaikan dengan kata “Kala” yang artinya “waktu” atau “energy”. Bhuta kala artinya unsur alam semesta dan kekuatannya. Bhuta Yadnya adalah pemujaan serta persembahan suci yang tulus ikhlas ditujukan kehadapan Bhuta Kala yang tujuannya untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan Bhuta Kala dan memanfaatkan daya gunanya. Salah satu dari upacara Bhuta Yadnya adalah Upacara Tawur ke Sanga (Sembilan) menjelang Hari Raya Nyepi (Tahun Baru / Çaka / Kalender Bali). Upacara Tawur ke Sanga (Sembilan) adalah upacara suci yang merupakan persembahan suci yang tulus ikhlas kepada Bhuta-Kala agar terjalin hubungan yang harmonis dan bisa memberikan kekuatan kepada manusia dalam kehidupan.
c.                   Upacara Manusa Yadnya
Upacara Manusa Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas dalam rangka pemeliharaan, pendidikan serta penyucian secara spiritual terhadap seseorang sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai akhir kehidupan. Adapun beberapa upacara Manusa Yadnya ini melalui beberapa fase diantaranya:
1.      Upacara kelahiran bayi
2.      Upacara tutug kambuhan, tutug sambutan, dan tutug mapetik
·        Upacara Tutug Kambuhan (upacara setelah bayi berumur 42 hari), merupakan upacara suci yang bertujuan untuk penyucian terhadap si bayi dan kedua orang tuanya.
·        Upacara tutug Sambutan (upacara setelah bayi berumur 105 hari), adalah upacara suci yang tujuannya untuk penyucian jiwatman dan penyucian badan si bayi seperti yang dialami pada waktu acara Tutug Kambuhan.
·        Upacara Mepetik ini adalah merupakan rangkaian dari upacara Tutug Sambutan yang pelaksanaanya berupa 1 (satu) paket upacara dengan upacara Tutug Sambutan
3.      Upacara perkawinan
d.                  Upacara Pitara Yadnya adalah upacara persembahan bagi orang mati. dengan tujuan untuk penyucian dan meralina ( kremasi) serta penghormatan terhadap orang yang telah meninggal menurut ajaran Agama Hindu. Yang dimaksud dengan meralina (kremasi menurut Ajaran Agama Hindu) adalah merubah suatu wujud demikian rupa sehingga unsur-unsurnya kembali kepada asal semula. Yang dimaksud dengan asal semula adalah asal manusia dari unsur pokok alam yang terdiri dari air, api, tanah, angin dan akasa. Sebagai sarana penyucian digunakan air dan tirtha (air suci) sedangkan untuk pralina digunakan api pralina (api alat kremasi).
e.                  Upacara Rsi Yadnya
Rsi artinya orang suci sebagai rohaninya bagi masyarakat umat hndu dibali. Upacara Resi Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas sebagai penghormatan serta pemujaan kepada pada rsi yang telah memberi tuntunan hidup untuk menuju kebahagiaan lahir-batin didunia akhirat
itulah rangkaian  Upacara Panca Yadnya yang dilaksanakan oleh Umat Hindu di Bali sampai sekarang yang mana semua aktifitas kehidupan sehari-hari masyakat Hindu di Bali selalu didasari atas Yadnya baik kegiatan dibidang sosial, budaya, pendidikan, ekonomi, pertanian, keamanan dan industri semua berpedoman pada ajaran-ajaran Agama Hindu yang merupakan warisan dari para leluhur Hindu di Bali.
Kesimpulan
Panca yadnya merupakan korban suci yang tulus iklas yang didasari atas rasa bhakti dan kasih sayang serta tanpa pamrih.Yadnya memiliki lima pembagian (panca yadnya), yaitu dewa yadnya, manusa yadnya, butha yadnya, pitra yadnya dan rsi yadnya.Pelaksanaan yadnya ini bukan ditentukan oleh tingkatan yadnya, namun oleh tri guna.Karena bagaimanapun besarnya sebuah upacara, jika tanpa didasari oleh ketulusan, iklas,bhakti, kasih sayang dan tanpa pamrih(phala). Upacara tersebut tidak akan menjadi sempurna (kurang bermakna).
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mukti. Agama-agama di Dunia. IAIN Sunan Kalijaga Press. Yogyakarta: 1988
Oka Netra, Anak Agung Gede, Tuntunan Dasar Agama Hindu. Hanoman Sakti, 1994.
Sudarsana, I B Putu, Ajaran Agama Hindu, Manifestasi Sang Hyang Widhi. Yayasan Sadharma Acarya, 2000.
Singh, Vir, Dharam, Hinduisme Sebuah Pengantar. Surabaya: Penerbit Paramita, 2006
Muterini P, Mas,  I.G.A. Panca Yadnya. Upadeca tentang Ajaran-Ajaran Agama Hindu. Yayasan Dharma Sarathi. 1989.

Ajaran Hindu tentang Catur Marga


CATUR MARGA
Catur marga yoga berasal dari tiga kata yaitu catur artinya empat, marga artinya jalan dan yoga berarti penyatuan, penghubungan yang berasal dari kata “Yuj” yang artinya berhubungan. Jadi  Catur Marga ialah empat jalan atau cara mengamalkan agama Hindu (Veda) dalam kehidupan dan dalam bermasyarakat. Oleh karena keadaan dan kemampuan lahir-batin umat Hindu tidak semua sama maka Veda mengajarkan Catur Marga (empat jalan) agar semua umat dapat beragama sesuai kemampuannya.
Pembagian catur marga:
1. Bhakti Marga : Mengamalkan agama dengan melaksanakan bhakti/sembahyang, cinta kasih terhadap sesama ciptaan Tuhan, baik sesama manusia maupun dengan makhluk lain yang lebih rendah dari manusia yang disertai sarana bhakti. Jadi apabila orang telah bersembahyang dan hidup kasih sayang terhadap sesama makhluk itu berarti telah mengamalkan ajaran Veda melalui jalan bhakti
2.     Karma Marga Yoga
Kata karma artinya perbuatan. Jadi Karma Marga Yoga adalah suatu proses mempersatukan atman dengan Brahman melalui kerja atau perbuatan tanpa ikatan, tanpa pamrih, tulus dan ikhlas, penuh dengan amal kebajikan dan pengorbanan.
Dalam Bhagavadgita tentang Karma Yoga dinyatakan sebagai berikut:
Tasmad asaktah satatam karyam karma samacara, asakto hy acaran karma param apnoti purusah.Artinya ;Oleh karena itu, laksanakanlah segala kerja sebagai kewajiban tanpa terikat pada hasilnya, sebab dengan melakukan kegiatan kerja yang bebas dari keterikatan, orang itu sesungguhnya akan mencapai yang utama.
Seorang yang melaksanakan ajaran Karma Marga Yoga disebut dengan sebutan karmin adalah orang yang selalu bekerja tanpa pamrih, mengutamakan pengabdian dan pengorbanan seperti dalam agama hindu ada slogan mengatakan“rame ing gawe sepi ing pamrih” yang artinya berbuat baik tanpa pernah berpikir mengharapkan suatu balasan.
Dalam ajaran Karma Marga Yoga, berdasarkan ikatan karma yang terdiri dari dua bagian yaitu Karma Nirwitta dan Karma Prawritha. Karma Nirwitta adalah perbuatan yang bebas dari harapan atau hasil. Sedangkan Karma Prawritha adalah perbuatan/karma yang masih terikat oleh hasil atau imbalan. Seorang karmin melaksanakan perbuatan yang tulus ikhlas akan menerima pahala yang berlipat ganda. Hidupnya akan berlangsung dengan tenang dan bahagia serta mencapai kesucian lahir bhatin.
3.     Kata jnana artinya kebijaksanaan filsafat (pengetahuan). Jadi Jnana Marga Yoga adalah suatu proses penyatuan atman dengan Brahman melalui ilmu pengetahuan suci dan filsafat pembebasan diri dari ikatan-ikatan keduniawian. Seorang yang melaksanakan ajaran Jnana Marga Yoga disebut dengan sebutan jnanin adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan suci untuk mencapai kebenaran yang sempurna. Dengan ilmu pengetahuan suci orang akan sanggup melepaskan diri dari ikatan karma.
4.     Raja Marga : Mengamalkan agama dengan melakukan Yoga, bersemadi, tapa atau melakukan Brata (pengendalian diri) dalam segala hal termasuk upawasa (puasa) dan pengendalian seluruh indria.
                    Keempat jalan (marga) itu dapat dilakukan diberbagai tempat dan waktu sesuai kemampuan seseorang dan keempatnya tidak dapat dipisahkan karena dalam prakteknya saling berkaitan. Misalnya sembahyang , keempat cara (marga) itu dapat diamalkan sekaligus yaitu :
1)    rasa hormat atau berserah merupakan wujud bhakti marga.
2)    Menyiapkan sarana kebhaktian merupakan wujud karma marga.
3)    Pemahaman tentang sembahyang merupakan wujud jnana marga. 
4)    Duduk tegak-tenang-konsentrasi merupakan wjud raja marga.
Jika direnungkan dan diperhatikan maka sesungguhnya pengamalan agama Hindu sangat mudah, praktis dan lues. Keluesan itu disebabkan karena agama Hindu dapat dilaksanakan :
1)    Dengan mempraktekan Catur Marga
2)    Oleh seluruh umat tanpa terkecuali
3)    Disegala tempat, waktu dan keadaan
4)    Tidak harus dengan materi
5)    Sesuai dengan kemampuan umat
6)    Sesuai dengan adat istiadat karena Hindu menjiwai adat istiadat.
                   Demikian agama Hindu dapat diamalkan selama 24 jam setiap hari dengan cara serta bentuk pengamalan  yang beraneka ragam. Untuk itu umat Hindu tidak patut memaksakan bentuk pengamalan agama agar seragam dari segi materi maupun bentuk material lainnya, apalagi keseragaman jumlah uang. Namun yang harus sama dan seragam ialah prinsip dasar ajaran agama.

Ajaran Hindu Dharma tentang Manusia dan Alam

Ajaran Hindu Dharma tentang Manusia dan Alam


Penciptaan Manusia
Menurut ajaran agama Hindu, manusia pertama disebut dengan nama: MANU, atau selengkapnya SWAYABHU-MANU, tetapi ini bukan nama perseorangan. Sebab dalam bahasa sansekerta, Swayambhu berarti: yang menjadikan diri sendiri. Suku kata “swayam” berarti diri sendiri, dan suku kata “bhu” berarti: menjadi, dan kata “manu” berarti “mahluk berfikir yang menjadikan dirinya sendiri”, yakni MANUSIA PERTAMA. Istilah manu sekarang menjadi kata manusia. Menurut ajaran Hinduisme, semua manusia adalah keturunan Manu.[1][2]
Hal ini dapat dilihat dari petikan kitab Bhagawad Gitta II.16 dan Bhagawad Gitta II. 20 di bawah ini:
"Apa yang tak akan pernah ada; apa yang ada tak akan pernah ada; apa yang ada tak akan pernah berhenti ada; keduanya hanya dapat dimengerti oleh orang yang melihat kebenaran. Yang tak pernah lahir dan mati; juga setelah ada tak akan berhenti ada, tidak dilahirkan, kekal, abadi, selamanya, tidak mati dikala tubuh jasmani mati."
Dalam zaman Brahmana diuraikan bahwa manusia terdiri dari dua bagian, yaitu bagian yang tampak dan tak nampak.
q Bagian yang tampak disebut rupa, yang tersusun dari lima unsur, yaitu: rambut, kulit, daging, tulang, dan sum-sum.
q Bagian yang tidak nampak disebut nama, terdiri dari unsur-unsur yang menentukan hidup. yaitu: nafas, akal, pemikiran, penglihatan, dan pendengaran.
Manusia tediri dari beberapa skandha (skandha artinya tonggak). Skandha tersebut ialah rupa, sanna, sankhara, dan winnana. [3]
q Rupa adalah kerangka anatomis atau alat badani kita, yaitu baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan.
q Sanna ialah pengamatan dari segala macam, baik yang rohani maupun yang jasmani, yang dengan perantara indra masuk ke dalam kesadaran.
q Sankhara adalah suatu skandha yang sangat kompleks, yang di dalamnya mengandung kehendak, keinginan dan sebagainya yang menjadikan skandha ini dapat menyusun gambar atau khayalan dari apa yang diamati.
q Winnana adalah kesadaran. Yang disebut jiwa sebenarnya adalah kelima skandha ini bersama-sama atau satu persatu. 
Dalam diri manusia terdapat atman. Atman tersebut diselubungi oleh beberapa selubung, yaitu dari luar ke dalam: Selubung yang terdiri dari makanan atau tubuh sebagai selubung jasmani (Annamaya atman); Selubung yang di bawah selubung jasmani, yaitu selubung yang di tempati nafas hidup atau prana, yaitu selubung nafas ni (Pranamaya atman); Selubung yang lebih mendalam lagi, yaitu selubung akali (Manomaya atman); lalu terdapat selubung yang terdiri dari kesadaran (Wijnanamaya atman); dan bagian terdalam terdapat atman dalam keadaan bahagia (Anandamaya atman) yaitu inti sari manusia.[4]
Penciptaan Alam
Dunia ini keluar dari Brahman, melalui persekutuan antara purusa (jiwa atau inti pribadi perseorangan, yang tidak berubah dan tidak aktif) dan prakrti (bukan jiwa yang badani atau asas yang bersifat kebendaan, tetapi yang dalam keadaan yang semula mewujudkan suatu kesatuan yang tanpa pembedaan). Prakrti mengandung didalamnya triguna atau tiga tabiat, yaitu: sattwa (tabiat terang), rajas (tabiat penggerat), dan tamas (tabiat yang gelap, masa bodoh, malas, dsb). Karena hubungan praktri dengan purusa, nisbah (rasio) antara ketiga tabiat tadi berubah-ubah, yang menyebabkan berkembangnya dunia yang beraneka ragam ini. [5]
Dunia ini keluar dari Brahman, melalui persekutuan antara purusa (jiwa atau inti pribadi perseorangan, yang tidak berubah dan tidak aktif) dan prakrti (bukan jiwa yang badani atau asas yang bersifat kebendaan, tetapi yang dalam keadaan yang semula mewujudkan suatu kesatuan yang tanpa pembedaan). Prakrti mengandung didalamnya triguna atau tiga tabiat, yaitu: sattwa (tabiat terang), rajas (tabiat penggerat), dan tamas (tabiat yang gelap, masa bodoh, malas, dsb). Karena hubungan praktri dengan purusa, nisbah (rasio) antara ketiga tabiat tadi berubah-ubah, yang menyebabkan berkembangnya dunia yang beraneka ragam ini. 
"Dahulu kala Hyang Widhi menciptakan manusia dengan jalan yadhnya dan bersabda dengan ini engkau akan berkembang dan mendapatkan kebahagiaan atau khamaduk sesuai dengan keinginanmu."[6]
(Sumber: Tony Tedjo, Mengenal agama Hindu, Buddha, Khong Hucu, (Pionir Jaya, Bandung: 2011)
"Dahulu kala Hyang Widhi menciptakan manusia dengan jalan yadhnya dan bersabda dengan ini engkau akan berkembang dan mendapatkan kebahagiaan atau khamaduk sesuai dengan keinginanmu."
(Sumber: Tony Tedjo, Mengenal agama Hindu, Buddha, Khong Hucu, (Pionir Jaya, Bandung: 2011)
Hubungan Manusia dengan Alam
Konsep dasar agama Hindu tentang hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup dimulai dari konsep “Rta” dan “ Yadnya”. Hubungan timbal balik ini harus dijaga.
Rta Sebagai bagian imanen (tak terpisahkan) dari alam. Manusia pada setiap tahap dalam kehidupannya dikuasai oleh fenomena dan hukum alam.
Yadnya merupakan hakikat hubungan antara manusia dengan alam yang terjadi dalam keadaan harmonis, seimbang antara unsur-unsur yang ada pada alam dan unsur-unsur yang dimiliki oleh manusia. [7]
Konsep dasar agama Hindu tentang hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan hidup dimulai dari konsep “Rta” dan “ Yadnya”. Hubungan timbal balik ini harus dijaga.
Rta Sebagai bagian imanen (tak terpisahkan) dari alam. Manusia pada setiap tahap dalam kehidupannya dikuasai oleh fenomena dan hukum alam.
Yadnya merupakan hakikat hubungan antara manusia dengan alam yang terjadi dalam keadaan harmonis, seimbang antara unsur-unsur yang ada pada alam dan unsur-unsur yang dimiliki oleh manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Swabodhi, Harsa, Budha Dharma&Hindu Dharma, Analogi Filsafat, Etika dan Puja. Sumatera Utara:Yayasan Perguruan Budaya, 1980.
Cudamani, Pengantar Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi,  Jakarta: Yayasan Wisma Karma, 1987.
Hadiwiyono, Harun, Agama Hindu dan Budha. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1989.